Informasi Dunia Islami

Senin, 27 Februari 2017

Kisah Nyata: Kesetiaan Seorang Istri selama LDM 21 Tahun dengan Suami

x

x
Bagi orang desa, 18 tahun adalah usia yang pantas
untuk menikah. Begitu juga dengan aku waktu itu. Selepas lulus SMA, aku menikah dengan laki-laki yang usianya 10 tahun di atasku. Sebut saja Mas Ganteng karena orangnya memang ganteng.






Mas Ganteng memiliki peringai yang sangat keras, meski memang bertanggung jawab. Namun, aku tetap bersyukur karenanya setelah janji suci itu diucapkan, mau seperti apa kondisi rumah tanggaku kelak, aku harus tetap bertahan. Itu janjiku. Bercerai bagi orang desa adalah sesuatu yang amat tabu.
Beberapa bulan setelah menikah, aku harus rela ditinggalkan Mas Ganteng ke luar Jawa untuk mencari nafkah. Saat itu, belum ada telepon, HP, apalagi internet. Satu-satunya komunikasi di antara kami berdua hanyalah surat yang kadang waktunya tidak tepat.

Kami dikaruniai dua orang anak perempuan yang perbedaan usianya sepuluh tahun. Sebenarnya, anak kami ada lima, namun hanya dua saja yang bertahan hidup, dan selebihnya keguguran. Aku dan Mas Ganteng membagi peran, dia sebagai pencari nafkah sedangkan aku mengurus anak- anak.

Dua dekade lebih kami berdua berpisah jarak dan waktu. Dua dekade lebih aku membesarkan kedua putriku sendirian di tengah lingkungan keluarga besar Mas Ganteng yang cukup sering memanas-manasiku dengan berita miring. Dua dekade pula aku memasrahkan hidup mati Mas Ganteng kepada Sang Pencipta. Bagaimana dia di perantauan, bagaimana saat naik kapal ferry, bagaimana ia di sana, seperti apa kehidupannya, dan hal-hal sejenis.

Tak seperti anak zaman sekarang yang meskipun LDR tetap bisa berkomunikasi karena ada internet. Dulu, tak seperti itu. Tapi, aku bersyukur, semua itu menjadikanku sebagai ibu yang kuat dan istri mandiri yang bisa aku ajarkan pada kedua putriku. Ya, kedua putriku harus menjadi wanita perkasa yang tidak mudah mengeluh. Sekarang, zaman sudah canggih, tak seharusnya bila seorang istri mengeluh hanya karena suaminya lembur. Coba bayangkan dengan dulu. Benar, kan?

Alhamdulillah, perantauan Mas Ganteng berakhir ketika putri bungsu kami menikah sesaat setelah lulus kuliah. Saat ini, kami berdua sedang menikmati masa-masa berdua yang dulu tak pernah kami rasakan sambil mengurus kebun buah-buahan milik pribadi yang kelak buat anak cucu kami. Ingat selalu, kesetiaan istri adalah hal yang harus dijaga dalam sebuah rumah tangga.

Seperti dikisahkan Ibu Alikah kepada penulis, Miyosi Ariefiansyah di buku Nikah Mudah Nggak Bikin Mati Gaya karya Miyosi dan Aprilina.

x
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Kisah Nyata: Kesetiaan Seorang Istri selama LDM 21 Tahun dengan Suami

0 komentar:

Poskan Komentar