Informasi Dunia Islami

Senin, 27 Februari 2017

Lebih Baik Menikah dengan Yang Beda Agama tapi Baik daripada Yang Seagama tapi Jahat?

x

x
di zaman modern seperti sekarang ini, kerap kita jumpai
orang-orang yang seolah tidak peduli dengan masalah keyakinan saat mereka akan menikah. Bahkan tidak sedikit pula yang beropini menyedihkan entah karena pernah dikecewakan atau seperti apa, "Mending nikah sama yang beda agama tapi baik daripada yang seagama tapi enggak baik," atau "kamu enggak usah ngurusin aku, terserah aku mo nikah sama siapa termasuk nikah sama yang beda keyakinan," astaghfirullah.






Duluu, hal-hal semacam itu dianggap tabu. Sebandel-bandelnya seseorang, kalau nikah, dia pasti akan menikah dengan yang satu keyakinan. Sementara di zaman serba permisif seperti sekarang ini masalah yang seharusny prinsip seolah hanya dianggap hiasan. Astaghfirullah.

Rupanya, tugas orangtua zaman sekarang makin menantang. Jika zaman dulu informasi serba terbatas yang itu artinya hal-hal aneh pun tidak bisa diakses bebas, maka saat ini sebaliknya. Jika filter tidak ada, yang rugi dan hancur adalah diri sendiri. Bagaimana tidak rugi jika kemudian hal-hal yang dulu dianggap tabu saat ini dianggap tren dan keren, bangga pula saat melakukannya. Astaghfirullah.

Sahabat Ummi, memiliki prinsip yang kuat salah satunya memilih untuk menikah dengan yang satu keyakinan bukan berarti membenci yang berbeda. Sama sekali tidak. Itu adalah dua hal yang berbeda yang tidak tepat jika dicampuradukkan, didramatisir, apalagi dipolitisasi.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa bekerja sama atau berinteraksi dalam kebaikan dengan siapa saja. Tapi ketika sudah mencapai ranah prinsip, rasanya kurang tepat ya jika dicampuradukkan tidak pada tempatnya.

Yakinlah masih banyak yang sekeyakinan yang layak dinikahi. Ketika kita melihat satu apel ternyata busuk, bukan berarti semua apel seperti itu, kan? Pun ketika kita pernah dikecewakan oleh yang seagama, misal ditinggal nikah, bukan berarti semuaaa seperti itu kan? Sangat tidak adil jika kita menyimpulkan sejuta orang sama buruknya hanya karena satu atau sepuluh atau seratus orang melakukan hal yang tidak menyenangkan.

Dan jujur, kalimat "lebih baik nikah sama yang beda keyakinan tapi baik daripada sekeyakinan tapi jahat" itu seolah ucapan seseorang yang sudah putus asa dan desperate serta enggak mau melihat dunia lebih luas. Sama halnya dengan pilihan tidak enak, mending mana punya istri lembut tapi tukang selingkuh apa istri pemarah banget seperti orang kerasukan tapi setia? Yakin, laki-laki normal inginnya istri yang setia dan lembut.

Sahabat Ummi, jika saat ini posisi kita sedang dalam proses pencarian Mr. Right, maka tanyakan hati nurani apakah memegang prinsip kuat dan hebatt mengenai pemilihan pasangan yang harus sekeyakinan itu kuno dan enggak gaul? Jujur, kita yang notabene sudah dewasa sangat tahu jawabannya.

Sedangakan bila saat ini posisi kita adalah orangtua, semoga kita bisa mengajarkan serta menanamkan kuat-kuat pada anak-anak mengenai hal prinsip yang tidak bisa diganggu gugat ini. Allah sebaik-baik tempat berlindung dari fitnah akhir zaman.

"Gaul" outside (dalam artian tidak mengeksklusifkan diri atau merasa diri suci), militan inside (dalam artian memegang prinsip kuat-kuat untuk hal-hal yang tidak bisa diganggu gugat). Jangan sebaliknya, ya. Aamiin.

Foto ilustrasi: google

x
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Lebih Baik Menikah dengan Yang Beda Agama tapi Baik daripada Yang Seagama tapi Jahat?

0 komentar:

Poskan Komentar