Informasi Dunia Islami

Kamis, 13 April 2017

Mana yang Didahulukan, Bayar Utang atau Bayar Zakat?

Pertanyaan

Assalamualaikum wr. wb.

Ustaz, apakah saya terkena wajib zakat profesi bila penghasilan bulanan saya sudah melebihi nisab, tapi karena ada utang/cicilan yang harus dibayar penghasilan saya jadi di bawah nisabnya. Mana yang harus didahulukan? Terima kasih.








Jawaban

Waalaikumsalam wr. wb.

Membayar zakat adalah bagian dari rukun Islam yang lima. Seorang yang menolak untuk membayar zakat, selain berdosa, juga dianggap telah ‘menghujat’ kedaulatan umat Islam. Sehingga khalifah Abu Bakar As-Shiddiq ra memerangi orang-orang yang menolak untuk membayar zakat.

Di sisi lain, yang namanya utang juga merupakan kewajiban yang wajib untuk dibayarkan. Sekadar untuk menggambarkan bagaimana urgensi dan pentingnya hukum membayar utang, bisa kita perhatikan ketentuan buat orang yang mati syahid.

Rasulullah SAW telah menetapkan bahwa seorang yang mati syahid dijanjikan Allah SWT bisa masuk surga tanpa hisab. Namun untuk itu ada syaratnya, yaitu bila masih punya utang, tetap saja tidak bisa masuk surga. Sampai dia menyelesaikan terlebih dahulu urusan utang-utangnya kepada sesama manusia.

Nah, kalau kedua kewajiban ini kita sanding, akan menjadi sebuah pertanyaan menarik, mana yang harus didahulukan dari keduanya? Apakah kita harus bayar utang dulu atau kira harus membayar zakat terlebih dahulu?

Untuk menjawab pertanyaan menggelitik ini, mari kita buka kitab fikih zakat. Salah satu yang cukup populer adalah fikih zakat susunan Dr. Yusuf Al-Qaradawi. Setidaknya, kitab ini ada tersedia di hadapan kita.

Baca:   Apakah Utang Mengurangi Kewajiban Zakat?
Pada jilid pertama, penulis menerangkan kriteria harta yang wajib dizakatkan. Rupanya, tidak semua jenis harta terkena kewajiban zakat. Ada beberapa kriteria tertentu yang harus terpenuhi agar harta itu berstatus wajib dizakatkan.

Ringkasnya, di antara sekian banyak syarat yang disebutkan dalam kitab itu, salah satunya adalah bahwa harta itu telah melebihi kebutuhan dasar. Istilah yang dipopulerkan kitab itu adalah al-fadhlu ‘anil alhajah al-ashliyah.

Seandainya ada seseorang yang pada dasarnya punya harta melebihi nisab, namun kebutuhan dasarnya jauh lebih besar, maka harta itu harus untuk menutupi kebutuhan paling dasar terlebih dahulu. Bila masih ada sisanya, barulah dikeluarkan zakatnya.

Selain itu, pemilik harta itu terbebas dari beban harus membayar utang, istilahnya as-salamatu minad-dain.

Maksudnya, seseorang baru dibebani untuk berzakat manakala harta yang dimilikinya bebas dari hak milik ‘semu’ milik orang lain. Seorang yang berutang dan sudah jatuh tempo untuk membayarnya, jelas-jelas punya kewajiban nomor satu untuk membayar utangnya. Sedangkan kewajiban bayar zakat baru muncul manakala utang yang menjadi kewajiban membayar utangnya terlebih dahulu.

Demikian kira-kira jawaban yang dapat kami berikan, wallahu a’lam bishshawab.

Ahmad Sarwat, Lc

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Mana yang Didahulukan, Bayar Utang atau Bayar Zakat?

Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar